MAKALAH
RANGKUMAN MATERI
PEMBELAJARAN BHS.INDONESIA SD SEMESTER 1
Yang
dibina
oleh:
Drs.
HARRY POERWANTO, S.Pd.,M.Pd
![]() |
Oleh:
Simon Obianus O. Mado
120401140028
Kelas
A 12
PROGRAM
STUDI PGSD
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS
KANJURUHAN MALANG
KATA
PENGANTAR
Pujisyukur
kami panjatkankehadirat Allah SWT yang
telahmemberikanrahmatsertakarunia-Nyakepadapenulis,
sehinggapenulisdapatmerangkummateribahasa Indonesia SD
daripertemuanpertamasampaipertemuanterakhir. Diharapkanrangkumaninidapatmemberikaninformasikepadapembacatentangmateribahasa
Indonesia SD.
PenulissampaikanterimakasihkepadaBapak
Harry Poerwanto, S.Pd.,M.PdselakudosenmatakuliahBahasa Indonesia SD yang telah
member bimbinganpadapenulisyang telahberperansertadalampenyusunanmakalahini.
Penulismenyadaribahwamakalahinimasihjauhdarisempurna,
olehkarenaitukritikdan saran yang besifat membangun darisemuapihakselalupenulisharapkan demi kesempurnaanmakalahini.
Akhir
kata, semoga Allah SWT senantiasameridhaisegalausahakita. Amin.
Malang,19Januari
2013
Penulis
MOTTO
Jika
kamu befikir akan kaya, maka kamu akan kaya
Jika
kamu befikir akan sukses, maka kamu akan sukses
Cara
befikir yang baik akan memberikan kekuatan
Maka
dari itu jadilah pribadi yang selalu berfikir positif dan selalu optimis
DAFTAR
ISI
Halaman
HalamanJudul……………………………………………………………………………….. i
Kata Pengantar……………………………………………………………………................ ii
Motto…………………………………................................................................................... iii
Daftar
Isi……………………………………………..………………………………………. iv
Bab I PENDAHULUAN…...……………………………………………………………….. 1
A. Latar
Belakang……………………………………………………………............. 1
B. RumusanMasalah……..…………………………………………………………… 2
C. Tujuan……………………………………………………………………………. 2
Bab II PEMBAHASAN………….………………………………………………………….. 3
A. Pertemuan
1………………………………………………………………………. 3
B. Pertemuan
2……………………………………………………………………….. 4
C. Pertemuan
3……………………………………………………………………….. 6
D. Pertemuan
4……………………………………………………………………….. 9
E. Pertemuan
5…………..…………………………………………………………… 12
F. Pertemuan
6……………………………………………………………………….. 14
G. Pertemuan
7………………………………………………………………………. 18
H. Pertemuan
9………………………………………………………………………. 21
I. Pertemuan
10………………………………………………………………………. 22
J. Pertemuan
11………………………………………………………………………. 24
K. Pertemuan
12………………………………………………………………………. 27
L. Pengembangan…………………………………………………………………...... 31
A. Kesimpulan………………………………………………………………………… 36
B. Saran……………………………………………………………………………….. 36
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Membaca
merupakan kegiatan yang melatih otak kita agar kritis dalam mehami apa yang
kita dibaca. Membacamempunyai hubungan erat dengan berbicara, menulis,
menyimak, mendengar. Tidak akan ada yang dibaca kalau tidak ada yang ditulis,
Sebaliknya tidak akan ada yang ditulis maupun di simak dan di baca kalau tidak
ada yang berbicara. Satu sama yang lain saling berkaitan.
Membaca
merupakan aktivitas yang sangat membosankan. Di Indonesia minat dari pembaca
sangatlah minim. Yaitu sekitar 45% dari seluruh penduduk Indonesia. Padahal,
membaca merupakan salah satu aktifitas yang dapat menambah wawasan serta ilmu
pengetahuan.
Oleh
sebab itu, dengan keterbatasan minat pembaca perlu akan adanya rangkuman yang
berfungi untuk menjadikan tulisan lebih menarik dan tidak mengurangi
nilai-nilai ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Kebanyakan dari
masyarakat, lebih memilih membaca rangkuman. Hal ini di sebabkan oleh rangkuman
yang sifatnya langsung pada inti, tidak bertele-tele, dan mudah untuk dipahami.
Dari
permasalahan di atas, maka penulis berkeinginan untuk menulis sebuah rangkuman
tentang materiBAHASA INDONESIA SD Semester 1 yang di bina oleh Drs. Harry
Poerwanto, S.Pd,. M.Pd, dimana dengan adanya rangkuman ini, diharapkan kepada
pembaca untuk bisa lebih memahami isi materi yang dirangkum.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut, saya memberikan rumusan masalah, antara lain sebagai
berikut:
1. Materi
apa sajakah yang di ajarkan di mata kuliah Bahasa Indonesia SD semester 1?
C.
Tujuan
Sesuai
dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan makalah ini sebagai berikut:
1. Merangkum
materi mata kuliah Bahasa Indonesia SD semester 1.
PEMBAHASAN
A.
Pertemuan
ke 1
SUBSTANSI
MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Substansi berasal dari bahasa
Inggris “substance” dan bersumber dan bahasa latin “substantia” yang berarti
bahan hakekat, inti atau isi (Bagus, 2002:LOSI). Menurut KUBI, 1989:862 :
Substansi berarti isi, pokok, inti, watak yang sebenarnya dari sesuatu.
Mengkaji substansi materi ajar Bahasa Indonesia SD berarti menyelidiki dengan
pikiran apa yang menjadi isi pokok atau inti dari materi ajar tersebut.
Substansi materi ini diperlukan Adanya pengetahuan
pendukung sebagai berikut:
a. Pengetahuan
tentang kebahasaan(lafal, ejaan, tanda baca, kosa kata, struktur, paragraf atau
wacana)
b. Kemampuan
berbahasa (menyimak,membaca,berbicara,menulis)
c. Kesastraan
Pembelajaran Bahasa Indonesia
selain dapat menunjang keberhasilan peserta didik dalam mempelajari semua
bidang studi yang diajarkan di sekolahnya, juga memiliki peran sentral dalam
perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik.
Melalui aspek berbicara diharapkan dapat menggunakan
wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam
kegiatan perkenalan, tegur sapa, percakapan sederhana, wawancara, percakapan
telepon, diskusi, deskripsi, peristiwa dan benda sekitar.
Melalui aspek membaca diharapkan dapat menggunakan
berbagai jenis membaca.
Melalui aspek menulis diharapkan dapat melakukan
berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog,
formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, serta berbagai karya sastra untuk
anak berbentuk cerita, puisi dan pantun.
STRATEGI PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA
SD
Strategi
pembelajaran diartikan sebagai rencana yang cermat mengenai suatu kegiatan
untuk mencapai tujuan (KUBI,1989:859). Strategi pembelajaran erat sekali
hubungannya dengan :
1.Pendekatan
2.Metode
3.Teknik.
B. Pertemuan ke 2
KETERAMPILAN MENYIMAK
Menyimak
merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan seorang bila dilihat proses
pemerolehan bahasa.Sebelum anak melakukan berbicara, membaca apalagi menulis,
kegiatan menyimaklah yang pertama kali dilakukan.Tarigan(1989) menyatakan bahwa
menyimak hampir, bahkan sering disamakan dengan mendengarkan, sedangkan
mendengarkan sering dibedakan dengan mendengar.
Menyimak
memiliki kandungan makna yang lebih spesifik bila dibandingkan dengan mendengar
dan mendengarkan, Kegiatan menyimak perlu dibedakan dengan mendengarkan.
Kegiatan menyimak dapat dilakukan seseorang dengan bunyi bahasa sebagai
sasarannya, sedangkan mendengar /
mendengarkan sasarannya dapat berupa bunyi apa saja.
Kegiatan
menyimak dapat dilakukan dengan sengaja / terencana dan ada usaha memahami atau
menikmati apa yang disimaknya. Tarigan (1989) menyatakan bahwa untuk hakekat
menyimak adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan.
. Tahapan
Menyimak:
1. Menafsirkan
2. Mendengarkan
3. Mengidentifikasi
4. Memahami
5. Menilai
6. menanggapi
. Perbedaan
Menyimak dan Mendengarkan:
1. Ada
tidaknya unsur kesengajaan
2. Ada
tidaknya usaha untuk memahami dan menikmati
3. Menyimak
mengandung unsur mendengar dan mendengarkan dan bukan sebaliknya
. Macam-macam bentuk menyimak:
1. Menyimak
berita
2. Menyimak
dialog
3. Menyimak
iklan
4. Menyimak
petunjuk
5. Menyimak
pidato
•
Keterangan Faktor sikap
penyimak
Sikap
penyimak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam menyimak.Artinya apakah
sikap itu obyektif atau atau sikap subyektif.Penyimak tidak berpihak dan bersikap
kooperatif sehingga apa yang disimaknya benar-benar efisien.
Ada beberapa perhatian terhadap
menyimak:
1. Perhatian
primer
2. Perhatian
sekunder
3. Perhatian
sesaat
C. Pertemuan ke 3
•
PERKEMBANGAN KOMPETENSI
MENYIMAK
Perkembangan
kompetensi dalam menyimak bahasa terjadi pada
anak yang sedang belajar bahasa.Pada kontak pertama pada ujaran/ucapan
suatu bahasa yang masuk ke telinga hanya terasa sebagai suatu aliran bunyi
gemuruh yang tidak berbeda.
Secara
berangsur-angsur anak akan merasakan adanya berbagai urutan bunyi.Ada
keteraturan turun naiknya bunyi-bunyi, ada pula kelompok bunyi yang berdasarkan
perbedaan taraf embusan napas.Akhirnya anak dapat menyadari ada beberapa
gabungan fakta-fakta bahasa yang dikenal secara arbiter, misalnya kosa kata,
kata kerja dan pernyataan-pernyataan yang sederhana. Sehingga anak mulai dapat
membedakan adanya fonem-fonem dan pola-pola kalimat.
Untuk
kompetensi bahasa pertama, anak mengharapkan adanya rentetan bunyi-bunyi
tertentu sebagai isi informasi yang sesuai dengan pengalaman yang mendahuluinya
dalam bentuk kontak bahasa yang mirip, sehingga perhatian sepenuhnya dapat
diarahkan kepada item-item informasi yang lebih sulit.Bagi bahasa kedua anak
masih memerlukan banyak informasi dasar yang diharapkan sehingga perhatian yang tersita untuk hal-hal
tersebut tidak terlalu.
Pada
pengertian menyimak secara luas, penyimak bukan hanya mengerti dan membuat
penafsiran atas lambang-lambang bunyi yang masuk ke telinga tetapi akan
selanjutnya penyimak berusaha melakukan atau menanggapi apa yang dimaksud oleh
pesan tadi dan penyimak akan berusaha memanfaatkan hasil penafsiran tadi untuk
tujuan –tujuan lebih lanjut. Bila pesan memang menghendaki hal itu, misal
menjawab pertanyaan, menuruti perintah.
•
Pengajaran Menyimak
Menyimak
sebagai salah satu keterampilan berbahasa tidak kalah pentingnya dengan
berbicara, membaca dan menulis.Menyimak, berbicara, membaca, dan menulis hanya
disajikan secara terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia SD.
Peristiwa menyimak diawali dengan mendengarkan
bunyi secara langsung atau melalui rekaman, radio, telepon, atau televisi.Bunyi
bahasa yang ditangkap telinga, diidentifikasi menjadi suku kata, kata, fraze,
klausa, kalimat dan wacana.Jeda dan informasi ikut diperhatikan oleh penyimak
bunyi bahasa yang diterima kemudian maknanya ditafsirkan kemudian dinilai
kebenarannya agar dapat diputuskan diterima tidaknya.
Jadi
dapat dikatakan bahwa menyimak merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan
mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menafsirkan, menilai bahkan
mereaksi terhadap makna yang termuat pada wacan lisan.
Menyimak
pada hakekatnya merupakan rangkaian kegiatan penggunaan bahasa sebagai alat
komunikasi.Secara sederhana dikatakan bahwa menyimak merupakan suatu proses dalam memahami pesan
yang disampaikan melalui lisan. Pesan yang diterima penyimak berupa bunyi
bahasa yang kemudian dialihkan menjadi bentuk semula yang berupa ide atau
gagasan yang sama seperti yang sama seperti yang dimaksud oleh pembicara.
Penyimak
yang berhasil adalah penyimak yang dapat memanfaatkan baik pengetahuan yang ada
pada diri penyimak dapat ditangkap dan wacana yang disimaknya maupun
pengetahuan yang telah mereka miliki yang berhubungan dengan materi yang mereka
simak.
Menyimak
dan berbicara merupakan komunikasi lisan dan komunikasi lisan tidak akan
terjadi bilamana kedua kegiatan ini
tidak berlangsung sekaligus atau tidak saling melengkapi.Kegiatan ini disebut
kegiatan desiprokal artinya kegiatan menyimak dan berbicara dilakukan
bersama-sama dan saling mengisi dan saling melengkapi.
•
Strategi Pembelajaran
Menyimak
Agar
pembelajaran menyimak dapat berhasil dengan guru menerapkan hal-hal sebagai
berikut:
1. Pengajaran menyimak harus
mempunyai tujuan yang jelas yang diketahui oleh guru dan siswa.
2.
Pengajaran menyimak disusun yang
sederhana ke yang lebih kompleks sesuai
dengan tingkatperkembangan bahasa siswa.
3. Pengajaran menyimak harus mampu
menumbuhkan partisipasi aktif terbuka pada diri siswa.
4. Pengajaran
menyimak harus benar-benar mengajar bukan menguji artinya skor yang diperoleh
siswa harus dipandang sebagai balikan bagi guru.
Agar pembelajaran menyimak
memperoleh hasil yang baik, strategi pembelajarannya harus memenuhi kriteria:
1. Relevan
dengan tujuan pembelajaran
2. Menantang
dan merangsang siswa untuk belajar
3. Mengembangkan
kreatifitas siswa secara individu atau kelompok
4. Memudahkan
siswa memahami materi pelajaran
5. Mengarahkan aktivitas belajar
siswa kepada tujuan pembelajaran yang telah diterapkan
6. Mudah diterapkan dan tidak
menuntut disediakannya peralatan yang rumit
7. Menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan.
D. Pertemuan ke 4
KETERAMPILAN BERBICARA
Berbicara
merupakan perbuatan menghasilkan bahasa untuk berkomunikasi sebagai salah satu
keterampilan dasar dalam berbahasa. Menurut Tarigan (1989), berbicara adalah
kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata / lambang bunyi
untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan
perasaan.
Berbicara dapat diartikan suatu penyampaian
maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan
bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dapat dipahami oleh orang lain
(pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain.
.`Proses tersebut digambar sebagai berikut:
Berbicara
sebagai salah satu bentuk komunikasi akan mudah dipahami dengan cara
membandingkan diagram komunikasi dengan peristiwa berbahasa. Berbicara
merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik,
psikologis, neurologis(saraf), semantik(makna) dan linguistik(bahasa).
Berbicara
merupakan tuntutan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial agar mereka dapat
berkomunikasi dengan sesamanya.Kemampuan berbicara yang baik sangat dibutuhkan
dalam berbagai jabatan dalam pemerintahan, swasta maupun pendidikan.
.Perbedaan ragam lisan dan ragam
tulis
Perbedaannya
ada 2 macam :
1. Berhubungan
dengan peristiwanya
2. Berkaitan
dengan upaya yang digunakan dalam ragam lisan perlu diketahui tentang tinggi
rendahnya, panjang-pendeknya, dan intonasi kalimat.
. Elemen
Dasar Berbicara
Elemen
tersebut adalah
1. Sumber
2. Pesan
3. Saluran
4. penerimaan
5. Sumber
Pemahaman kode adalah :
a. Penanggapan
bunyi ujaran / ucapan
b. Pemahaman
maksud gerak anggota badan dan mimik
c. Penafsiran
isi pembicaraan
.Model Berbicara
a.Model berbicara searah
b. Model berbicara dua arah
.Sikap Mental Pembicara
Sikap
mental pembicara adalah unsur kejiwaan pembicara yang mempengaruhi baik
buruknya kegiatan berbicara.
Unsur
tersebut adalah
a. Rasa
komunikasi
b. Rasa
humor
c. Rasa
kepemimpinan
d. Rasa
percaya diri
e. Rasa
komunikasi
.Tujuan berbicara
Tujuan
utama berbicara adalah untuk berkomunikasi pembicara perlu memahami makna
segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan terhadap para pendengar dan harus
mengetahui prinsip-prinsip mendasar segala situasi pembicaraan, baik secara
umum maupun perorangan.
.Prinsip dasar berbicara
a. Membutuhkan
paling sedikti dua orang
b. Mempergunakan
suatu sandi linguistik
c. Memerima
/ mengakui suatu daerah referensi umum
d. Merupakan
suatu pertukaran antara partisipan
e. Menghubungkan
setiap pembicara dengan lainnya dengan segera
f. Berhubungan
atau berkaitan dengan masa kini
g. Hanya
melibatkan perlengkapan yang berhubungan dengan suara / bunyi bahasa dan
pendengaran
h. Tidak
pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang
diterima sebagai dalil.
E. Pertemuan ke 5
.HUBUNGAN KETERAMPILAN BERBICARA
DENGAN KETERAMPILAN BAHASA YANG LAIN
Berbicara
sebagai keterampilan berbahasa berhubungan dengan keterampilan yang
lain.Kemampuan berbicara berkembang pada kehidupan anak apabila didahului oleh
keterampilan menyimak Keterampilan berbicara memanfaatkan kosa kata yang pada
umumnya didapat dari keterampilan menyimak dan membaca.Keterampilan berbicara
sering dibantu dengan keterampilan menulis, baik dalam bentuk pembuat out-line
maupun naskah.
.Hubungan
antara berbicara dan menyimak
Menyimak dan
berbicara merupakan keterampilan yang saling melengkapi, keduanya saling bergantung
dan merupakan keterampilan berbahasa lisan. Keduanya membutuhkan penyandian dan
penyandian kembali simbol-simbol lisan.Pada dasarnya bahasa yang digunakan
dalam percakapan dipelajari lewat menyimak dan menirukan pembicaraan.
.Hubungan
berbicara dan menulis
Berbicara dan
menulis merupakan keterampilan ekspresif / produktif, keduanya dibutuhkan untuk
menyampaikan informasi.Dalam berbicara dan menulis dibutuhkan kemampuan
penyandian simbol-simbol lisan dalam berbicara dan simbol tulis dalam menulis.
Dalam kegiatan
berbicara maupun menulis pengorganisasian pikiran sangat
penting.Pengorganisasian pikiran lebih mudah dalam menulis karena informasi
dapat disusun kembali secara mudah setelah ditulis sebelum disampaikan kepada
orang lain untuk dibaca.Itulah sebabnya banyak pembicara yang merencanakan apa
yang akan dikatakan dalam bentuk tertulis sebelum disajikan secara lisan.
.Hubungan
membaca dan menulis
Membaca dan
menulis merupakan keterampilan yang saling melengkapi.Tidak ada yang perlu
ditulis kalau tidak ada yang membacanya, dan tidak ada yang dapat dibaca kalau
belum ada yang ditulis.Keduanya merupakan keterampilan berbahasa tulis dengan
menggunakan simbol-simbol yang dapat dilihat yang mewakili kata-kata yang
diucapkan serta pengalaman dibalik kata-kata tersebut.
.Secara garis besar hubungan tersebut dapat ditemukan
sebagai berikut :
1. Berbicara
dan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat langsung.
2. Berbicara
dipelajari melalui keterampilan menyimak
3. Peningkatan
keterampilan menyimak akan meningkatkan keterampilan berbicara
4.
Bunyi dan suara merupakan faktor penting
dalam keterampilan berbicara dan menyimak
5.
Berbicara diperoleh sebelum pemerolehan
kemampuan membaca
6.
Pembelajaran membaca pada tingkat lanjut
akan membantu pada keterampilan berbicara
7.
Keterampilan berbicara diperoleh sebelum
pembelajaran menulis
8.
Berbicara cenderung kurang terstruktur
dibandingkan dengan menulis
9.
Pembuatan catatan, bagan dan sejenisnya
dapat membantu keterampilan berbicara
10.
Performansi menulis dan berbicara berbeda meskipun keduanya sama-sama bersifat
produktif
.Bentuk
berbicara
1. Berbicara
terapan / fungsional (the speech art)
2. Pengetahuan
dasar berbicara.
.Konsep dasar pendidikan berbicara mencakup 3 kategori adalah :
1. Hal-hal
yang berkenaan dengan hakekat atau sifat-sifat dasar ujaran
2. Hal-hal
yang berhubungan dengan proses intelektual yang diperlukan untuk mengembangkan
kemampuan berbicara
3. Hal-hal
yang memudahkan seseorang untuk mencapai keterampilan berbicara
F. Pertemuan ke 6
.PENGAJARAN BERBICARA
Berbicara
sebagai salah satu unsur kemampuan berbahasa sering dianggap sebagai suatu
kegiatan yang berdiri sendiri.Dalam praktiknya, pengajaran berbicara dilakukan
dengan menyuruh anak berdiri di depan kelas untuk berbicara misalnya bercerita
atau berpidato, anak yang lain diminta mendengarkan atau dan tidak mengganggu.
Akibatnya
pengajaran berbicara di kelas-kelas kurang menarik. Anak yang mendapat giliran
merasa tertekan sebab disamping anak harus mempersiapkan bahan, sering guru
melontarkan kritik yang berlebihan. Sementara ada anak merasa kurang terikat
pada kegiatan ini kecuali ketika anak mendapat giliran maju ke depan kelas.
Agar seluruh
anggota kelas dapat terlibat dalam kegiatan pengajaran berbicara, hendaklah
selalu diingat bahwa hakekat berbicara selalu berhubungan dengan bicara yang
lain seperti menyimak, membaca dan menulis.Pembicaraan yang baik memberikan
kesan pada pendengar bahwa pembicara itu menguasai masalah, memiliki keberanian
dan memiliki kegairahan.Dengan demikian akan terjadi interaksi timbal balik
antara pembicara dengan pendengar sehingga terjadi pembicaraan yang hidup.
Dalam pengajaran
bicara perlu diperhatikan dua faktor yang mendukung tercapainya pembicaraan
yang efektif yaitu :
a. Faktor
kebahasaan
b. Faktor
non kebahasaan
.Bercerita, berdialog, berpidato / berceramah dan berdiskusi
Cerita adalah
sejenis hiburan yang murah, yang kehadirannya amat diperlukan sebagai bumbu
dalam pergaulan.Pertemanan akan terasa kering dan gersang tanpa kehadiran
cerita.Kisah lama pada umumnya memiliki tema hitam putih artinya kebenaran dan
keluhuran budi yang dipertentangkan dengan kebetulan akan selalu
dimenangkan.Disitulah pencerita mengajarkan nilai luhur yang bersifat
universal, sekaligus menghadirkan tokoh protagonis model keteladanan .
Persyaratan pencerita yang baik
adalah :
1. Penguasaan
dan pengkhayatan cerita
2. Penyelarasan
dengan situasi dan kondisi
3. Pemilihan
dan penyusunan kalimat
4. Pengekspresian
yang alami
5. Keberanian
. Berdialog
Dialog dapat
diartikan kegiatan berbicara dua arah, maksudnya para partisi saling berbicara,
bertanya jawab, menanggapi mitra cerita.Tarigan(1989:77) mengatakan bahwa dalam
setiap lakon dialog harus memenuhi 2 macam persyaratan yaitu :
1. Dialog
harus mempertinggi nilai gerak
2. Dialog
harus baik dan bernilai tinggi
3. Mengandung
maksud agar dialog yang digunakan mencerminkan apa-apa yang telah terjadi
selama permainan, selama pementasan, juga mencerminkan pikiran / gagasan para
tokoh yangf ikut berperan dalam lakon itu.
4. Dialog
yang baik dan bernilai tinggi berarti dialog harus terarah dan lebih teratur
daripada percakapan sehari-hari, hendaknya jangan ada kata-kata yang tidak
perlu, para tokoh berbicara dengan jelas, terang dan menuju sasaran.
. Berpidato / Berceramah
Pidato adalah
penyampaian uraian secara lisan tentang suatu hal di hadapan massa.Penyampaian
secara lisan mendapatkan tekanan dalam pengertian untuk membedakan dengan
uarian secara tertulis, baik dalam bentuk artikel / buku.Pidato dapat dijumpai
dalam berbagai pertemuan misal : ulang tahun, kematian, peringatan hari besar /
kemerdekaan.
.Jenis
dan sifat pidato:
1. Pidato
informatif
2. Pidato
persuasif
3. Pidato
rekreatif
4. Pidato
argumentatif
.
.Syarat
berpidato
1. Mempunyai
keberanian
2. Ketenangan
menghadapi massa
3. Kecepatan
bereaksi
4. Kesanggupan
dalam menyampaikan ide secara lancar dan sistematis
.Sikap
dan tata krama pidato adalah:
1. Berpakaian
yang bersih, rapi, sopan dan tidak pamer.
2. Rendah
hati tapi bukan rendah diri / kurang percaya diri.
3. Menggunakan
kata yang sopan, sapaan yang mantap dan bersahabat.
4. Menyelipkan
humor yang segar, sopan.
5. Mengemukakan
permohonan maaf pada akhir pidato.
.Berdiskusi
Berdiskusi
merupakan salah satu bentuk bicara dalam kelompok yang banyak, digunakan dalam
masyarakat.
Contoh berdiskusi :
1. Rembug
desa 6. Diskusi pamel
2. Musyawarah 7. Seminar
3. Rapat 8. Loka karya
4. Belajar
kelompok 9.
Simposium
5. Diskusi
kelompok
.Esensi diskusi adalah :
1. Partisipan
lebih dari satu
2. Dilaksanakan
dengan bersemuka
3. Menggunakan
bahasa lisan
4. Tujuannya
untuk mendapatkan kesepakatan bersama
5. Dilaksanakan
melalui tukar-menukar informasi dan tanya jawab.
G. Pertemuan ke 7
.HUBUNGAN ANTARA EMPAT KETERAMPILAN BERBAHASA
Empat
keterampilan berbahasa memilki hubungan yang sangat erat, meskipun
masing-masing mempunyai ciri tertentu.Pembelajaran dalam satu jenis
keterampilan sering meningkatkan keterampilan yang lain.
Contoh:
1. Pembelajaran
membaca disamping meningkatkan keterampilan membaca, dapat pula meningkatkan
keterampilan menulis.
2. Belajar
menemukan ide pokok dalam menyimak juga dapat meningkatkan menemukan ide pokok
dalam membaca.
.Hubungan antara menyimak dan
berbicara
Menyimak dan
berbicara merupakan keterampilan yang saling melengkapi, keduanya saling
bergantung.Komunikasi yang diucapkan merupakan hal utama yang perlu
disimak.Pada dasarnya bahasa yangg digunakan dalam percakapan dipelajari lewat
menyimak dan berbicara.Anak hanya menirukan pembicaraan yang mereka tidak
paham, tetapi juga mencoba menirukan hal-hal yang tidak mereka pahami.Kenyataan
ini guru harus menjadi model / contoh berbahasa yang baik, supaya anak tidak
menirukan pembicaraan yang tidak benar.
.Hubungan antara menyimak dan membaca
Menyimak dam
membaca merupakan keterampilan resetif.Keduanya memungkinkan menerima informasi
dari orang lain, baik menyimak maupun membaca membutuhkan symbol. Keterampilan
menyimak bagus untuk mengembangkan kesiapan membaca, karena menyimak memerlukan
proses mental yang sama dengan membaca kecuali pada tingkat pengertiannya.Mengajarkan
anak dalam menangkap ide pokok, detail, urutan, hubungan sebab akibat,
mengevaluasi secara kritis dan menangkap elemen-elemen lain dari pesan-pesan secara lisan yang dapat
mempengaruhi kemampuan anak membaca guna membaca elemen-elemen yang sama
seperti ketika menyimak.Penambahan sebuah kata dalam kosakata yang disimak anak
dapat meningkatkan dalam menafsirkan arti kata tersebut jika mereka membacanya.
Contoh :
Seorang anak
dapat memahami kata-kata bermain ketika menyimak cerita guru, juga dapat
memahaminya ketika mempunyai kata tersebut dalam bacaan.
.Hubungan
antara berbicara dan menulis
Berbicara dan
menulis merupakan keterampilan produktif.Keduanya digunakan untuk menyampaikan
informasi.Dalam berbicara dan menulis dibutuhkan kemampuan penyandian
simbol-simbol.simbol lisan dalam berbicara dan simbol tertulis dalam menulis.
Dalam kegiatan
berbicara maupun menulis, pengorganisasian pikiran sangat penting.
Pengorganisasian pikiran ini lebih mudah dalam menulis, karena informasi dapat
disusun kembali secara mudah setelah ditulis sebelum disampaikan kepada orang
lain untuk dibaca.Sebaliknya suatu pesan yang tidak teratur dikatakan pada
orang lain, meskipun telah dibetulkan oleh pembicara, kesan yang tidak baik
kerap kali masih tetap ada dalam diri pendengar.
.Hubungan antara membaca dan menulis
Membaca dan
menulis merupakan keterampilan yang saling melengkapi.Tidak ada yang perlu
ditulis kalau tidak ada yang membacanya, dan tidak ada yang dapat dibaca kalau
belum ada yang ditulis.Keduanya merupakan keterampilan berbahasa tulis, dengan
menggunakan simbol-simbol yang dapat dilihat yang mewakili kata-kata yang
diucapkan serta pengalaman dibalik kata-kata tersebut.
Dalam menulis
orang lebih suka menggunakan kata-kata yang dikenal dan yang dirasakan sudah
dipahami dengan baik dalam bacaan yang telah dibaca dan dikuasai seseorang
tidak pernah muncul dalam tulisan / karangan.Hal ini terjadi karena untuk
menggunakan suatu kata dalam tulisan diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam
dalam hal penerapan kata daripada sekedar memahaminya ketika membaca.
.Prinsip keberhasilan dalam mencapai tujuan
1. Keefektifan
komunikasi secara luas sebagai tujuan pembelajaran bahasa di SD.
2. Situasi
pembelajaran bahasa menurut konteks.
3. Memaksimalkan
hubungan antara keterampilan berbahasa.
H. Pertemuan ke 9
.KETERAMPILAN
MEMBACA
Membaca
adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata / bahasa
tulis.Membaca juga merupakan suatu kemampuan untuk melihat lambang-lambang
tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui fonik /
ucapan menjadi / menuju membaca lisan (oral reading).Membaca dapat pula
dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat.
.Aspek Membaca
1. Keterampilan
yang bersifat mekanis yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih rendah.
2.
Keterampilan yang bersifat pemahaman yang dapat dianggap berada pada urutan
yang lebih tinggi
dengan membaca dalam hati (silent
reading) yang dibagi menjadi:
a. Membaca ekstensif (extensive
reading)
b.
Membaca intensif (intensive reading)
Membaca ekstensif mencakup :
a. Membaca
survei (survei reading)
b. Membaca
sekilas (skimmup reading)
c. Membaca
dangkal (superfical reading)
Membaca intensif mencakup :
a. Membaca
teliti (close reading)
b. Membaca
pemahaman (compherensive reading)
c. Membaca
kritis (critical reading)
d. Membaca
ide (reading for ideas)
.Kegiatan Membaca
Keterampilan membaca yang diberikan
di SD meliputi :
a. Membaca
dalam hati
b. Membaca
cepat
c. Membaca
bahasa
I. Pertemuan ke 10
.MEMBACA
PEMAHAMAN DAN MEMBACA NYARING
Membaca pada
hakekatnya adalah proses memahami dan memberi makna pada tuturan tertulis yang
dibaca.Membaca pemahaman bukan sekedar melisankan kata-kata tertulis, dan juga
bukan hanya menangkap sebuah makna yang sudah pasti ada dalam tuturan tertulis
itu. Dan dalam prakteknya membaca pemahaman berguna untuk membina anak agar
mereka mampu membaca tanpa suara dan mampu memahami isi tutran tertulis yang
dibacanya, baik isi pokoknya maupun isi yang tersurat dan yang tersirat.
Prinsip Membaca Pemahaman adalah :
1. Selalu
terlibat dengan level pemahaman tertentu karena setiap bahan bacaan selalu
mengungkapkan sesuatu.
2. Paparan
bahasa yang mewadahi sesuatu itu harus diperhatikan dengan teliti.
3. Bahan
yang disajikan sebaiknya bahasa yang sudah dikenal anak dan wajar.
4. Hindarilah
pemakaian gambar sebagai kunci untuk menangkapa makna.
5. Penyajiannya ragam bahasa baku
informal dan bukan bahasa baku.
6. Isi bacaan hendaklah sesuai
dengan pengalaman anak.
7. Kenalkan dengan segera kata-kata
fungsi dalam berbagai kelompok kata.
8. Sediakan
peluang yang cukup luas kepada anak untuk mengembangkan level kemajuan
membacanya sehingga ada perimbangan yang harmonis dengan level bahasa yang
mampu didengarnya.
9. Usahakan pengalaman yangs
sejajar dengan pembelajaran berbicara, menyimak dan menulis.
.Membaca Nyaring
Membaca nyaring
adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, siswa
ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain untuk menangkap serta memahami
informasi, pikiran dan perasaan sesorang pengarang.Pembaca nyaring pertama-tama
haruslah mengerti makna serta perasaan yang terkandung dalam bacaan.
Membaca nyaring
yang baik menuntut agar pemmbaca memiliki kecepatan mata yang tinggi serta
pandangan mata yang jauh, karena pembaca harus melihat pada bahan bacaan untuk
memelihara kontak mata dengan para pendengar. Sehingga dalam mempelajarkan
membaca nyaring, guru harus memahami proses komunikasi dua arah. Membaca
nyaring pada hakekatnya merupakan suatu masalah lisan (oral matter), karena itu
khusus dalam bahasa asing, aktivitas membaca nyaring lebih dekat / lebih
ditujukan pada ucapan daripada ke pemahaman.
J. Pertemuan ke 11
.MEMBACA DALAM HATI DAN MEMBACA BAHASA
Membaca dalam
hati adalah jenis membaca yang dilakukan tanpa menyuarakan apa yang
dibacanya.Tujuan utama membaca dalam hati adalah untuk memperoleh informasi.
Keterampilan membaca dalam hati merupakan kunci bagi semua ilmu
pengetahuan.Pada membaca dalam hati, anak mencapai kecepatan dalam pemahaman
frase-frase, memperkaya kosa kata dan memperoleh keuntungan dalam hal keakraban
dengan sastra yang baik.
Pada garis besarnya membaca dalam
hati dapat dibagi menjadi :
a. Membaca
ekstensif (membaca secara luas)
b. Membaca
intensif (
.MEMBACA TELAAH BAHASA
Pada hakekatnya
segala sesuatu, terlebih sesuatu yang kongkrit itu terdiri atas bentuk dan isi,
atas jasmani dan rohani.Begitu pula dengan bacaan, yang terdiri dari isi
(content) dan bahasa (language).Isi dianggap sebagai yang bersifat rohani, dan
bahasa yang bersifat jasmanai.Keduanya merupakan dwitunggal yang utuh.
Keserasian antara isi dan bahasa suatu bahan bacaan mencerminkan keindahan
serta kemanunggalan.
.Membaca
telaah bahasa terdiri dari
a. Membaca
bahasa (language reading)
b. Membaca
sastra (literary reading)
.Ragam Bahasa
1. Bahasa
formal
2. Bahsa
informal
3. Bahasa
percakapan
4. Bahasa
kasar
5. Bahasa
slang
6. Bahasa
teknis
.Mempelajari makna kata dari konteks
Dapat dipelajari melalui
pengalaman. Semakin banyak pengalaman yang kita miliki semakin kaya pulalah
kosa kata kita dapati.Kita dapat mempelajari makna kata melalui bacaan. Cara
yang paling baik untuk menghindari kesulitan yang tersembunyi ialah berhenti sebentar,
memeriksa bagian tempat kata yang belum
lama itu muncul.Bagian lisan / tulisan tempat sebuah kata muncul disebut
konteks atau hubungan kata-kata.
Beberapa cara hubungan kata-kata
yang dapat mencerminkan makna suatu kata adalah :
a. Konteks
dapat membatasi kata makna kata bervaili definisi
b. Konteks dapat
memasukkan suatu perbandingan / pertentanganKonteks dapat menolong kita
memahami makna kata.
c. Suasana Sebagai bagian suatu
keseluruhan dapat mencerminkan makna kata.
.Bagian-bagian kata
Bagian kata terdiri atas :
1. Prefiks
(awalan)
2. Roat
(dasar kata)
3. Suffiks
(akhiran)
4. Infiks
(sisipan)
.Penggunaan Kamus
Kamus adalah
rekaman kata-kata yang membangun suatu bahasa.Bahasa adalah sesuatu yang hidup,
tumbuh, berkembang, dan berubah.Kamus dapat bertindak sebagai wasit dalam suatu
pertandingan.Kamus akan mengatakan secara tegas apakah suatu kata benar /
tidak.Dari kamus kita dapat belajar bentuk, jenis dan kekerabatan kata-kata.
.Aneka Makna
Kata memiliki
suatu kebiasaan memperhatikan makna yang berbeda-beda yang dikandung oleh suatu
kata.Kita harus paham akan homonim yaitu suatu kata-kata yang sama bentuk
bunyinya, tetapi berlainan maknanya.Penggunaan kata yang tepat, kata yang
benar-benar sesuai dalam kalimat menuntut kecermatan yang bijaksana dari pembaca.Waktu tambahan yang
dipergunakan dalam mencari kata yang tepat dan terasa dalam suatu konteks akan
memegang peranan penting pada penggunaan bahasa yang lebih efektif.
.Idiom
/ Ungkapan
Idiom merupakan ekspresi yang tidak
dapat dimengerti dari makna terpisah, makna sendiri setiap kata dalam kelompok
itu.Kata-kata itu harus diperlakukan sebagai suatu keseluruhan.
.Sinonim
dan Antonim
Sinonim adalah
kata-kata yang mempunyai makna umum yang sama / bersamaan, tetapi berbeda dalam
konotasi / nilai kata.
Antonim adalah
kata-kata yang berlawanan makna.Pembaca harus sadar bahwa penulis dapat
mengarahkan perhatian pada suatu ide tertentu dengan mempergunakan kontras /
pertentangan.
.Konotasi
Konotasi ada dua jenis :
1. Konotasi
pribadi (personal connotations) → hasil dari pengalaman pribadi seseorang.
2. Konotasi
umum (general connotations) → hasil dari pengalaman orang-orang sebagai suatu
kelompok sosial.
.Derivasi
kata
Pernakah kita
terpikir dalam hati kita darimana asal-usul kata-kata dalam bahasa kita?Telaah
mengenai asal-usul kata / derivasi kata bukan hanya merupakan sesuatu yang
bermanfaat tetapi juga sangat menarik hati.Kalau kita ingin memperkaya kosa
kata kita serta meningkatkan daya kata maka pengetahuan mengenai derivasi atau
asal-usul kata sangat penting.
Dalam perbendaraan kata-kata bahasa
Indonesia.
Misal : kita tahu bahwa banyak
kata-kata asing yang turut memperkaya kosa kata bahasa kita. Kosa kata yang
berasal dari bahsa Arab, Belanda, Cina, Portugis dsb.
K. Pertemuan ke 12
.MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA
Semua orang tak
pernah lepas dari kegiatan membaca sebagai seorang pelajar / mahasisw.
Pekerjaan maupun tugas anda sehari-hari adalah bergelut dengan buku-buku
artinya tidak lepas dari kegiatan membaca dan membaca terus.Sebagai seorang
pemburu ilmu, buku sumber ilmu yang
paling utama.
.Ada beberapa kiat yang perlu
diperhatikan agar kita menjadi pembaca yang baik
Bila anda
seorang pembaca yang baik, maka anda membaca dengan kecepatan tinggi dan
memahami apa yang anda baca dengan baik pula artinya anda memiliki kebiasaan
atau kemampuan membaca.
1. Membaca
dengan tujuan yang jelas.
2. Hanya membaca
pada satuan-satuan pikiran.
3. Kecepatan membaca bervariasi.
4.
Bersikap kritis.
5.
Jenis bacaan yang dibaca setiap hari bervariasi.
6. Kaya dengan kosa kata.
7. Membaca sebagai kebutuhan.
8.
Efisien dalam membaca.
9.
Membaca dengan kecepatan tinggi.
10.
Ketika membaca secara fisik diam.
Ciri-ciri pembaca yang baik :
a. Tujuan membacanya jelas.
b. Yang dibaca adalah satuan pikiran kalimat.
c. Kecepatan membaca yang diterapkan bervariasi.
d. Kritis
e. Bacaan yang dibaca bervariasi.
f. Kaya kosa kata.
g. Tahu cara membaca yang baik.
.Hal
yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kemampuan membaca
1. Menyadari adanya berbagai variasi tujuan membaca
yang berbeda dari kegiatan membaca yang satu dengan kegiatan membaca yang lain.
2. Selalu merumusakan secara jelas setiap kegiatan
membaca, minimal tahu apa yang akan diperoleh dari bacaan.
3. Perlunya mengembangkan berbagai strategi membaca
selaras dengan tujuan membaca.
4. Perlunya latihan membaca dengan berbagai
variasi tujuan membaca.
5. Menyadari bahwa seseorang yang mempunyai daya baca tinggi akan mampu
memanfaatkan teknik membaca yang bervariasi, sejalan dengan tujuan membaca yang
ingin dicapainya.
.Meningkatkan kecepatan membaca
1. Biasakan
membaca pada kelompok-kelompok kata.
2. Jangan mengulanng-ulang kalimat
yang telah dibaca.
3. Jangan selalu berhenti lama di
awal baris / kalimat.
4. Cari kata kunci yang menjadi
awal dan adanya gagasan utama sebuah kalimat.
5. Abaikan saja kata-kata tugas
yang sifatnya berulang-ulang.
6. Jika dalam
penulisan bacaan itu dalam bentuk kolom kecil (di surat kabar), arah gerak mata
bukan ke samping secara horisontal, tetapi ke bawah (vertikal). Arahkan
pandangan bola mata itu ke bawah terus.
.Hal yang menghambat kecepatan
membaca
1. Menyuaraka
apa yang dibaca.
2. Membaca
kata demi kata
3. Membantu
melihat / menelusuri baris-baris bacaan dengan alat-alat tertentu (ujung pensil
/ ujung jari).
4. Menggerak-gerakkan
kaki / anggota tubuh yang lain.
5. Konsentrasi
berpikir terpecah dengan hal-hal lain di luar bacaan.
6. Bergumam-gumam
/ bersenandung.
7 Kebiasaan berhenti lama di awal
kalimat, paragraf, sub-sub bab, bahkan di tengah-tengah kalimat.
8.Kebiasaan mengulang-ulang
unit-unti bacaan yang telah dibaca.
.Saran dalam meningkatkan kecepatan
membaca
1. Memahami
hakekat membaca.
2. Mengetahui
cara mengukur kecepatan membaca.
3. Mampu
mengukur tingkat pemahaman terhadap bacaan.
4. Mengetahui
dan menerapkan metode dan teknik pengembangan kecepatan membaca.
5. Mengetahui
fakta-fakta yang secara tak sadar menghambat kecepatan membaca, baik faktor
internal maupun faktor eksternal.
6. Mengetahui
bermacam-macam variasi kecepatan membaca sesuai dengan variasi tujuan membaca.
7. Mampu memilih
aspek tertentu saja yang dibutuhkan dalam bacaan sesuai dengan tujuan membaca.
8. Menganggap kegiatan membaca
sebagai kebutuhan.
9. Selalu
membaca pada berbagai jenis bacaan, dengan rasa butuh yang sangat tinggi
(desakan untuk membaca).
1.Keterampilan
Menyimak
Pada dasarnya pengembangan
keterampilan menyimak itu dapat dibedakan atas empat tataran pokok sebagai
berikut :
1.
Tataran identifikasi
Tataran identifikasi tidak lain
adalah tahap pengenalan. Tahap ini akan melibatkan siswa untuk mulai terampil
mengenal berbagai jenis bunyi suatu bahasa, kata-kata, frase, kalimat dan
hubungan timbal balik antar struktur, baik atas pertimbangan waktu, modifikasi,
bahkan juga logika.Tahap ini banyak melibatkan penyimak untuk segera mengenal elemen-elemen
kebahasaan dan makna yang mungkin dipengaruhi oleh adanya suatu elemen bunyi
suprasegmental, yaitu intonasi, jeda, nada dan tekanan. Menyimak pada tataran
ini disebut juga dengan istilah menyimak bahasa.
2.
Tataran identifikasi dan seleksi
tanpa retensi
Tataran identifikasi dan seleksi
tanpa retensi adalah tataran menyimak dimana penyimak diharapkan memperoleh
kemampuan mengenal dan memahami sesuatu unit kontinum bunyi atau ujaran, akan
tetapi belum dituntut adalanya kemampuan retensi yaitu kemampuan mencamkan,
menyimpan dan memproduksikan hasil pemahaman tersebut. Pada tataran ini
menyimak hanya dituntut mampu mengenal, memahami maksud tuturan, belum dituntut
adanya kemampuan mengingat.
3.
Tataran identifikasi dengan seleksi
dan retensi jangka pendek
Tataran identifikasi dengan seleksi
dan retensi jangka pendek adalah tataran menyimak yang menuntut penyimak
mengenal bunyi dan kemampuan memahami, tetapi dalam taraf terpimpin. Misalkan
dengan memberikan daftar pertanyaan terlebih dahulu kepada penyimak supaya
dapat dipelajari sebelum bahan simakan diberikan. Kemampuan mengingatpun masih
dalam jangka waktu yang begitu pendek misalnya bahan simakan masih dapat
diulang misalnya sampai tiga kali agar penyimak selain mampu mengidentifikasi
bunyi, memahami pesan, juga agar mendapat kesempatan mengingat dan mencocokkan
dalam waktu cepat dengan memilih jawaban mana yang paling tepat.
4.
Tataran identifikasi dengan seleksi
retensi jangka panjang
Tataran identifikasi dengan seleksi
retensi jangka panjang adalah menyimak yang menuntut penyimak untuk mempu
mengenal bunyi-bunyi dalam kontinium bunyi yang panjang, mampu memahami makna
pesan secara tepat, dengan kemampuan mengingat dalam jangka waktu yang relatif
lama. Tuntutan pada penyimak pada fase ini ialah penyimak mempu menyimak
kontinium wacana yang panjang, baik ragam bacaan cerita-cerita menarik, berita
surat kabar, percakapan percakapan panjang, ujaran-ujaran ekspresif, percakapan
lewat telepon, puisi, drama dan sebagainya.
Ada tiga tahap proses menyimak dalam kehidupan
sehari hari, yaitu :
1.Menerima
masukan auditori (auditory Input ) yaitu penyimak menerima pesan lisan,
mendengarkan pesan saja tidak akan bisa menjamin berlangsungnya suatu
pemahaman.
2.Memperhatikan
masukan auditori. Penyimak tidak berkonsentrasi secara fisik dan mental pada
apa saja yang disajikan oleh pembicara ataupun penutur.
3.Menafsirkan
dan berinteraksi dengan masukan auditori. Penyimak tidak sekedar mengumpulkan
dan menyimpan pesan akan tetapi juga mengklasifikasikan pesan tersebut, serta
membandingkan dan menguhubungkan pesan dengan pengetahuan yang dimiliki sejak
awal. Selain itu penyimak juga menggunakan strategi prediksi konfirmasi secara
tepat
2. Keterampilan Berbicara
Strategi
yang bisa dilakukan seorang guru untuk mengembangkan keterampilan berbicara
siswa adalah sebagai berikut:
- Permainan Simulasi
Simulasi dalam metode
mengajar dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran)
melalui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku
imitasi, atau bermain peranan mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan
seolah-olah dalam keadaan yang sebenarnya. Permainan simulasi adalah model yang
mengilustrasikan atau menggambarkan baik sistem sosial maupun sistem fisik yang
diabstraksi dari realitas dan disederhanakan.Berdasarkan peristiwa yang sebenarnya,
dilakukan abstraksi (pemindahan) terhadap kondisi-kondisi yang mendukung
terjadinya peristiwa tersebut, ditambah dengan penyederhanaan-penyederhanaan,
kemudian menyusun ulang peristiwa tersebut sesuai dengan kondisi-kondisi yang
telah disederhanakan.Di samping itu, metode permainan simulasi cocok diterapkan
pada semua tingkatan siswa, dari siswa taman kanak-kanak, sampai siswa pada
tingkatan yang lebih tinggi. Sebagai contoh dari permainan simulasi yaitu saat
siswa bermain peran dan berusaha menghayati perannya. Disinilah akan adanya
suatu keberanian untuk mengekpresikan dirinya dengan belajar untuk berbicara
dan memerankan orang lain.
2. Dongeng
Cara meningkatkan kemampuan berbicara siswa dengan
dongeng dapat didahului dengan dipraktekkan terlebih dahulu oleh guru. Unsur
keterampilan berbahasa yang terdapat didalamnya adalah menyimak dan berbicara.
Menyimak dengan siswa mendengarkan cerita yang disampaikan dan menugaskan siswa
untuk menceritakan kembali dongeng yang telah didengarnya dengan bahasanya sendiri.
Disini akan menggali keberanian siswa untuk tampil ke depan dan mendongeng
untuk temannya dengan cara dan gayanya sendiri. Jika seorang siswa berani
tampil dengan bagus, hal itu akan memotivasi siswa lain untuk mencoba berbicara
kedepan.
3.
Menggunakan strategi Modelling The Way
Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada keterampilan berbicara bahasa Indonesia perlu
menerapkan strategi Modeling
The Way (membuat
contoh praktik). Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mempraktikkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia melalui demonstrasi, dari hasil demonstrasi ini
kemudian diterapkan dalam keseharian di sekolah,
yaitu siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil, identifikasi beberapa situasi
umum yang biasa siswa lakukan di ruang kelas dan luar kelas dalam
berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, kemudian siswa
mendemonstrasikan satu persatu dalam berbicara bahasa Indonesia.Modeling The Way memberi waktu siswa untuk menciptakan skenario sendiri dan menentukan bagaimana mengilustrasikan
keterampilan berbicara sesuai kelompoknya. Kemudian siswa diberi kesempatan
untuk memberikan feedback pada setiap demonstrasi yang dilakukan.
4. Media gambar dalam
bercerita
Guru mengembangkan media pembelajaran melalui penggunaan media gambar
cerita dengan maksud agar siswa dapat menginterpretasikan isi cerita sesuai
dengan imajinasinya yang akhirnya siswa dapat mengungkapkan kembali isi cerita,
mengungkapkan hasil pengamatan dengan bahasa yang runtut, sehingga
bermakna.Penggunaan gambar cerita merupakan alat bantu (media) agar
pembelajaran tidak terkesan monoton dan terjadi bina suasana kelas.Kemampuan
anak untuk menceritakan kembali isi cerita merupakan modal dasar anak dalam
melatih aspek keterampilan berbicara.
3.
Keterampilan Membaca
Pembelajaran di SD adalah suatu kegiatan guru dan
siswa dalam mencapai pembelajaran membaca. Ruang lingkup pembelajaran membaca
adalah upaya peningkatan pencapaian tujuan pembelajaran membaca. Pembelajaran
membaca di SD tidak dilaksanakan secara khusus, melainkan pembelajaran itu
dilaksanakan dalam mata pelajaran bahasa dan sastra. Pembelajaran itu
dilaksanakan kepada siswa dari mulai kelas I sampai kelas VI oleh guru yang
mengajar dikelas itu. Terdapat perbedaan orientasi dan fokus pembelajaran
antara pembelajaran membaca di kelas I dan II dengan kelas III, IV, V dan VI.
Di kelas I dan II, pembelajaran membaca dan menulis dipadukan menjadi satu
kegiatan pembelajaran atau lazim diistilahkan dengan MMP (Membaca, Menulis.
Pemulaan). Di kelas III, IV, V dan VI MMP tidak dilakasakan karena pembelajaran
pemnbacaan membaca dan menulis sudah di ajarkan. Apabila pembelajaran membaca
di SD dilaksakan seperti itu, tentu tujuan yang harus dicapai oleh siswapun
berbeda-beda untuk setiap kelasnya. Guru sebagai perencana dan pelaksana
pembelajaran membaca dikelas tersebut harus mengetahui perbedaan tujuan
tersebut. Artinya, guru perlu mempertimbangkan perbedaan siswanya sehingga
tujuan dapat dicapai oleh siswa. Apabila siswa mencapai tujuan tidak sesuai
dengan rumusan yang diharapkan, berarti pembelajaran itu dipandang kurang
berhasil. Dalam hal ini, guru harus mengembangkan pembelajaran membaca yang
lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
TEKNIK DAN STRATEGI
PENGEMBANGAN
Pengembangan pembelajaran membaca dapat dilaksanakan
dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
1.
Perkembangan Struktur Kognitif Berorientasi pada pandangan Piaget, Perkembangan
struktur kognitif anak meliputi tahap-tahap :
a.
Sensori Motor Tahap sensori motor, yakni usia 0-2 tahun, anak mulai
merasakan dan memahami dunia dan lingkungannya dengan berdasarkan
hubungan-hubungan langsung.
b.
Praoperasional Pada tahap praoperasional, usia 3-7 tahun, anak dapat memikirkan
obyek-obyek tertentu, kemungkinan manipulasinya, memilah dan menyusun obyek
tertentu secara konkret, dan membentuk presepsi hingga membuahkan
informasi tertentu. Meskipun pada tahap-tahap tersebut perkembangan bahasa anak
mulai tumbuh bagi Piaget perkembangan struktur kognitif anak tidak bergantung
pada perkembangan bahasanya.
c.
Konkret tahap ini usia 8-11 tahun, anak mampu memusatkan perhatian pada sebuah
aspek maupun problem dan menghubungkannya. Dan terdapat kemampuan memilah
dan membedakan ciri aspek yang satu dengan yang lain serta membandingkan
dunia pengalaman dan kenyataan yang dihadapi secara timbal balik. d.
Oprasiformal (Operasional) Pada tahap ini usia anak 11 tahun keatas, anak sudah
mampu berfikir secara abstrak dan simbolis, membentuk pemahaman secara
komprehensif, dan membandingkan berbagai pengertian untuk kemudian mengambil
kesimpulan secara tentatif. Secara umum tingkat perkembangan struktur
kognitif anak dan tingkat perkembangan bahasanya akan menentukan tingkat
kesiapan anak dalam menyerap dan menampilkan sesuatu yang dipelajari.
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari materi di atas dapat saya simpulkan
bahwa membaca, menulis, menyimak, berbicara memiliki hubungan yang sangat erat,
meskipun masing-masing mempunyai ciri tertentu. Pembelajaran dalam satu jenis
ketrampilan sering meningkatkan ketrampilan yang lain.
Contoh:
1.
Pembelajaran membaca
disamping meningkatkan keterampilan membaca, dapat pula meningkatkan
keterampilan menulis.
2.
Belajar menemukan ide
pokok dalam menyimak juga dapat meningkatkan menemukan ide pokok dalam membaca.
Dalam
proses komunikasi semua aspek keterampilan berbahasa, baik lisan maupun tulis
sangat penting.
B.
SARAN
Diharapkan rangkuman materi pembelajaran bebicara, menyimak, menulis, membaca dapat
mempermudah pembaca mengerti inti dari materi tersebut, khususnya bagi calon
pendidik sekolah dasar yang bertujuan mendidik para murid-muridnya agar dapat
mengerti dan mempraktekkannya dilingkungan rumah, sekolah, maupun di masyrakat.
![]() |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar