Pesan Cinta dalam Sepucuk Angpau
Judul buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2012
ISBN : 978-979-22-7913-9
Tebal buku : 512 halaman
Harga buku : Rp 72.000, -
SELAMA langit belum runtuh, tema tentang kisah cinta dalam literatur
sastra –tidak bisa dimungkri-- tak akan pernah lekang dan usang untuk
dikisahkan. Tema tentang kisah cinta akan selalu menarik dan memikat
untuk dibaca, direnungkan bahkan dikenang sepanjang masa. Sebab tema
tentang kisah cinta merupakan tema abadi dalam palung kehidupan yang tak
lekang dimakan waktu dan dibatasi oelh ruang.
Tidak berlebihan, jika kisah Romeo-Juliat maupun Laila-Majnun hingga
detik ini masih mengundang daya pikat bagi pembaca. Sebab, di balik
kisah cinta sejati dua anak manusia yang memilukan, tragis bahkan penuh
dengan perjuangan tersimpan selaksa makna yang bisa dipetik untuk
dijadikan pelajaran. Apalagi, jika "kisah cinta" itu sampai berujung
tragedi, dan tidak bisa disatukan lantaran ada perbedaan ras, kultur,
agama, maupun status sosial. Wajar, kalau kisah cinta seperti merenggut
air mata menetes, mengiris-iris relung hati hingga akhirnya bisa diingat
sebagai sebuah kisah yang tak mudah untuk dilupakan.
Novel karya Tere Liye yang berjudul Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
ini tak dapat dimungkiri menjadi satu bukti nyata akan kebenaran itu.
Meskipun novel ini tidak mengisahkan kisah cinta sejati yang luar biasa,
melainkan hanya kisah cinta biasa, sederhana dari dua anak manusia yang
terjadi di tepi sungai Kapuas, tapi pengarang mampu membuat kisah cinta
biasa itu meletup-letup dan mengagumkan. Pasalnya, Tere Liye “piawai”
merangkai kisah itu dengan teknik cerita yang menawan.
***
BORNO, tokoh utama dalam novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini,
tak pernah menyangka jika perkenalannya dengan gadis sendu dapat membuka
kotak pandora tentang satu misteri yang terselip dalam kehidupan Borno
pada masa lalu. Anehnya, kunci “pembuka” kotak pandora itu termaktub di
balik sepucuk angpau merah yang ditinggalkan gadis berwajah sendu dan
menawan itu di bawah tempat duduk sepit.
Uniknya lagi sepucuk angpau merah itu seperti menyimpan kekuatan nan
ajaib. Sepucuk angkau itu dapat diibaratkan serupa mata anak panah venus
yang membidik jantung hati Borno sampai-sampai dia jatuh hati kepada si
pemilik angpau itu. Tapi di balik sepucuk angpau merah itu ternyata
menyimpan satu alasan; kenapa gadis itu menghindar dari Borno, walaupun
tak dapat dipungkiri, jika gadis itu sebenarnya juga jatuh cinta pada
Borno –“bujang berhati paling lurus” dΐ sepanjang sungai Kapuas itu.
Bisa jadi cerita novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini tidak akan
mengundang penasaran kalau Borno sedari awal membuka angpau itu. Pada
titik inilah, pengarang novel ini seakan hendak menghanyutkan emosi
pembaca pada alur kisah yang panjang. Sebab, di balik isi angpau merah
itu ada secercah jawaban dari setangkup beban yang sempat menjadi
pertanyaan besar bagi Borno tentang cinta sejati dan fakta di balik
kematian ayah Borno.
Jadi, setelah ayah Borno meninggal, dia hidup dengan “menanggung” masa
depan yang buram. Wajar jika Borno hanya mampu tamat SMA, dan tidak bisa
melanjutkan kuliah lantaran tak ada biaya. Akhirnya, dia bekerja
menjadi pengemudi sepit --perahu motor tradisional, atau alat
transportasi yang efektif, hemat waktu dan uang untuk menyeberang sungai
Kapuas. Di saat Borno mengemudikan sepit itulah, dia menemukan sepucuk
amplop merah tanpa nama di dasar sepit, tepat di bawah bangku tempat
duduk seorang gadis berbaju kuning, berambut panjang, bermata sipit,
berwajah sendu dan menawan.
Awalnya, Borno sempat mengira angpau merah itu sepucuk surat cinta.
Karena itu, dia tak berani membuka. Dia takut jika sepucuk surat itu
bukan untuk dirinya. Borno pun bertekat ingin mengembalikan amplop
berwarna merah itu. Tapi ketika dia mau mengembalikan angpau tersebut,
justru dihadapkan pada situasi yang membingungkan. Borno melihat gadis
sendu nan menawan itu justru sedang membagi-bagikan amplop merah dalam
rangka perayaan imlek.
Borno tergugu dan seakan disadarkan bahwa amplop merah yang dia kira
surat cinta itu tak lebih hanya sebuah angpau biasa. Bahkan, Borno
sempat terkejut, sewaktu gadis sendu nan menawan itu pun berucap sambil
tersenyum, "Abang Borno mau angpau juga? Oh, abang Borno sudah dapat."
Di luar dugaan Borno, ternyata gadis sendu nan menawan itu sudah tahu
namanya. Dari situlah, Borno yakin jika amplop merah itu hanya angpau
biasa sehingga Borno menyimpannya dan bahkan tidak pernah membukanya.
Tetapi, sejak peristiwa itu, Borno kian terobsesi dengan gadis itu.
Diam-diam, Borno memperhatikan dengan detail jam kepergian gadis itu
yang selalu menyeberang sungai Kapuas pada pukul 7.15 setiap pagi.
Dengan cerdik Borno berusaha mendapatkan antrean keberangkatan sepit
pada jam dan waktu tersebut dengan harapan gadis itu menyeberang dengan
sepit yang dia kemudikan. Dan hanya Pak Tua bijak –juga pengemudi
sepit-- yang tahu ulah Borno sehingga sempat menyindir. Tetapi perasaan
cinta itu justru membuat Borno salah tingkah. Apalagi, itu adalah
pengalaman pertama Borno jatuh hati. Akhirnya, walau gadis itu sudah
naik sepitnya, ironisnya tak sepatah kata pun terucap dari bibir Borno.
Sampai waktu pun berlalu, dan kesempatan itu akhirnya tiba. Borno bisa
berkenalan dan berbicara akrab dengan gadis itu --yang ternyata bernama
Mei. Bahkan, dia sempat mengajari Mei mengemudikan sepit. Tapi waktu
harus memisahkan keduanya. Mei harus pulang kembali ke Surabaya lantaran
praktek mengajarnya sudah selesai.
Setelah kepulangan Mei, Borno seakan kehilangan separuh nyawa. Tetapi,
berkat petuah Pak Tua, Borno pun tidak mau menyerah pada keadaan.
Apalagi, setelah Pak Tua itu berpesan, "Cinta sejati akan menemukan
jalannya." Pesan itu semakin meneguhkan hati Borno ketika dia kemudian
berkesempatan pergi ke Surabaya karena mengantar pak tua terapi. Di
Surabaya itu, Borno berusaha untuk mencari Mei tapi secara tak sengaja
keduanya justru bertemu secara tak terduga di tempat terapi --karena
kebetulan Mei sedang mengantar neneknya terapi.
Pertemuan itu membuat Borno dan Mei kembali dibelit kenangan masa lalu.
Borno pun mengajak Mei jalan-jalan dan makan, bahkan mengantar pulang.
Tapi, setelah tahu rumah Mei, hati Borno seperti ciut. Sebab, dia
menjumpai kenyataan tentang perbedaan antara Mei dan dia yang sangat
jauh berbeda. Rumah Mei bagus dan besar. Hati Borno semakin terasa
teriris, saat ayah Mei memperingatkan agar Borno menjauhi Mei. Walaupun
ayah Mei berkata bahwa hal itu bukan karena status Borno, melainkan ada
sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Mei harus menjauhi Borno.
Sesuatu hal yang sebenarnya sudah tertulis dalam sepucuk angpau merah.
***
LANTAS apa sebenarnya yang ditulis oleh Mei di dalam sepucuk angpau
merah sehingga menjadikan cinta Borno dan Mei itu seakan tak bisa
dipertemukan? Jawaban tentang isi angpau itulah yang dielaborasi dengan
apik, cerdas, bahkan piawai oleh Tere Liye dalam novel Kau, Aku dan
Sepucuk Angpau Merah ini. Sebuah novel yang mengisahkan tentang kisah
cinta biasa, tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa.
Dengan mengangkat “setting” kota air Pontianak, novel berjudul Kau, Aku
dan Sepucuk Angpau Merah ini mampu mengonyak imajinasi pembaca tentang
kehidupan masyarakat di tepian sungai Kapuas. Pengarang dapat
menggambarkan dengan menawan tentang keindahan dan kehidupan penduduk
tepi sungai Kapuas –termasuk perihal rumah di atas sungai sehingga
penduduk yang ingin bepergian tinggal melompat ke sepit yang ada di
kolong rumah. Bahkan pengarang bisa mengungkap kedalaman adat, tradisi
dan kehidupan yang biasa dan sederhana di tepi sungai Kapuas, tetapi
pengarang mampu menarasikan dengan kata-kata yang memikat, mengalir dan
tak membosankan, bagaikan menonton sebuah film tentang masyarakat
Kapuas.
Harus diakui, meski novel tentang kisah cinta sejati Borno dan Mei ini
bukan tema baru dalam dunia sastra, tetapi novel ini patut mendapatkan
tempat istimewa dalam khazanah sastra Indonesia. Dengan mengangkat kisah
cinta sejati dua anak manusia dari dua status sosial yang berbeda,
pengarang seakan dengan telak ingin meneguhkan bahwa cinta itu tak
mengenal kasta dan perbedaan ras. Sebab, cinta itu merupakan anugerah
dari Tuhan.
Satu hal lagi, pengarang dalam menulis novel ini pun menaburkan
petuah-petuah bijak dan arif tentang sahabat sejati, cinta, dan
kehidupan. Dan, semua itu dibalut dengan kisah yang kocak sampai mampu
mengocok perut pembaca. Tetapi, kelucuan itu tidak membuat novel yang
apik mengisahkan tokoh sentral Borno ini terbuai. Sebab di balik kisah
Borno itulah terselip dan termaktub perjuangan anak manusia yang bangkit
dari keterpurukan untuk menggapai cita-cita.
+kau+aku-dan-sepucuk-angpao-merah.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar